Pagi ini sebenarnya tidak
beda dengan pagi-pagi yang lain. Disambut nyanyian merdu burung-burung, juga
suara aliran air sungai yang terdengar kelelahan akibat sudah mengalir sejak
semalam.
Kau pun masih sama seperti kemarin-kemarin.
Berdiri tegak, postur yang gagah. Sial, kau selalu tampak sempurna!
Tapi ada satu hal yang menyulut kekesalan
ku pagi ini. "Kemarin kudengar kabar dari kota, ada yang mati lagi
katanya." tiba-tiba kau meneriakkan hal itu. Patutlah seluruh penghuni
hutan mendengarnya. Seluruh penghuni hutan, maksudku benar-benar seluruhnya.
Bukan hanya yang seperti kita. Tupai pun, monyet pun. Bahkan sang sungai
menjadi yang paling bersemangat menyimak teriakkan mu tadi.
"Jangan diteriakkan
seperti itu. Bikin malu." begitu responku terhadap ucapanmu tadi. Alasan
ku berkata seperti itu, karena memang begitu kenyataannya. Dalam waktu
sepersekian detik, seluruh penghuni hutan secara serta merta mulai
berbisik-bisik tentang kita. Ya, seluruh penghuni hutan maksudku di sini sama
seperti seluruh penghuni hutan yang tadi. Mengapa aku bisa tahu? Tentu saja aku
tahu. Suara bisikkan mereka saja tak kalah besar dari suara unggas bermahkota
merah ketika pagi datang. Kalau aku tidak salah dengar, sang raja hutan ikut
mengelu-elukan hal tadi. Walaupun bahasa mereka berbeda-beda, ya inti
pembicaraanya tetap saja sama; "mereka berdua adalah yang selanjutnya.
"
Enak saja sembarangan
memutuskan seperti itu. Mungkin yang lain yang sama seperti kami akan menjadi
yang selanjutnya, tapi jangan dispesifikasikan menjadi kami berdua dong. Maksud
ku, ada ratusan makhluk yang sama seperti kami berdua di hutan ini. Bahkan
ribuan jika ditambah dengan hutan-hutan lainnya.
Tak lama, aku mendengar suara gemuruh mesin
dari kejauhan. Walaupun aku belum pernah mendengar suara mesin sebelumnya,
mungkin suaranya seperti itu. Terlihat ada sekelompok orang membawa gergaji
semakin mendekat ke tempat aku berdiri.
"Tuhkan, apa aku
bilang. "
"Yaampun, memang apes
nya mereka berdua."
Kudengar ucapan
penghuni-penhuni hutan yang lain berubah menjadi seperti itu sekarang. Padahal,
kemungkinan aku mati saat itu hanya satu per ratusan. Tetapi, kau lagi-lagi
meneriakkan sesuatu. Kali ini ucapanmu terdengar heroik.
"Semua, cepat
bersembunyi! Biar kami yang menjaga kalian semua!"
Dan semua makhluk di hutan
ini menuruti perintahmu, bagaikan gelar 'Raja Hutan' telah kau rebut dari sang
singa. Padahal untuk apa pula mereka bersembunyi. Tujuan utama makhluk-makhluk
yang katanya 'berakal' untuk datang ke hutan dengan membawa gergaji memang
bukanlah untuk menyembelih hewan-hewan itu. Bukan untuk burung, bukan juga
untuk kancil. Apalagi untuk sang arus sungai. Tujuan utama nya ya untuk
makhluk-makhluk sepertimu. Tidak perlu mengucapkan kalimat heroik itu, kamu
memang akan menjadi korbannya.
*
* *
Sudah 3 jam sejak kedatangan
manusia-manusia bersenjata itu. Hewan-hewan masih bersembunyi, entah di mana
letak tempat persembunyian itu. Yang aku tahu, tempat persembunyian tersebut
pasti cukup besar hingga dapat menyembunyikan makhluk-makhluk sebanyak itu.
Dalam 3 jam ini, tubuhku masih suci dari tangan-tangan licik mereka, apalagi
senjata mereka. Tubuhmu pun. Masih kokoh, gagah.
Tetapi itu hanya sesaat saja. Memang pada
dasarnya manusia, mana kuat menahan untuk tidak menyentuh sesuatu yang tampak
sempurna, sepertimu. Dasar, makhluk-makhluk penuh nafsu! Tidak memuaskan mereka
jika hanya tangan mereka saja yang menyentuhmu. Lempengan logam penuh karat
yang mereka pegangpun, perlahan-lahan menyentuh tubuh sempurna mu. Sedikit demi
sedikit hingga terdengar suara isak tangis yang semakin lama semakin nyaring.
Yang para manusia tahu, itu suara hantu. Yang kamu tidak tahu, pahlawan tidak
boleh menangis saat menyelamatkan rakyatnya.