Sunday, February 5, 2017

Ketika Hantu Hutan Bersuara

Pagi ini sebenarnya tidak beda dengan pagi-pagi yang lain. Disambut nyanyian merdu burung-burung, juga suara aliran air sungai yang terdengar kelelahan akibat sudah mengalir sejak semalam. 
    Kau pun masih sama seperti kemarin-kemarin. Berdiri tegak, postur yang gagah. Sial, kau selalu tampak sempurna!
    Tapi ada satu hal yang menyulut kekesalan ku pagi ini. "Kemarin kudengar kabar dari kota, ada yang mati lagi katanya." tiba-tiba kau meneriakkan hal itu. Patutlah seluruh penghuni hutan mendengarnya. Seluruh penghuni hutan, maksudku benar-benar seluruhnya. Bukan hanya yang seperti kita. Tupai pun, monyet pun. Bahkan sang sungai menjadi yang paling bersemangat menyimak teriakkan mu tadi.
"Jangan diteriakkan seperti itu. Bikin malu." begitu responku terhadap ucapanmu tadi. Alasan ku berkata seperti itu, karena memang begitu kenyataannya. Dalam waktu sepersekian detik, seluruh penghuni hutan secara serta merta mulai berbisik-bisik tentang kita. Ya, seluruh penghuni hutan maksudku di sini sama seperti seluruh penghuni hutan yang tadi. Mengapa aku bisa tahu? Tentu saja aku tahu. Suara bisikkan mereka saja tak kalah besar dari suara unggas bermahkota merah ketika pagi datang. Kalau aku tidak salah dengar, sang raja hutan ikut mengelu-elukan hal tadi. Walaupun bahasa mereka berbeda-beda, ya inti pembicaraanya tetap saja sama; "mereka berdua adalah yang selanjutnya. "
Enak saja sembarangan memutuskan seperti itu. Mungkin yang lain yang sama seperti kami akan menjadi yang selanjutnya, tapi jangan dispesifikasikan menjadi kami berdua dong. Maksud ku, ada ratusan makhluk yang sama seperti kami berdua di hutan ini. Bahkan ribuan jika ditambah dengan hutan-hutan lainnya.
    Tak lama, aku mendengar suara gemuruh mesin dari kejauhan. Walaupun aku belum pernah mendengar suara mesin sebelumnya, mungkin suaranya seperti itu. Terlihat ada sekelompok orang membawa gergaji semakin mendekat ke tempat aku berdiri.
"Tuhkan, apa aku bilang. "
"Yaampun, memang apes nya mereka berdua."
Kudengar ucapan penghuni-penhuni hutan yang lain berubah menjadi seperti itu sekarang. Padahal, kemungkinan aku mati saat itu hanya satu per ratusan. Tetapi, kau lagi-lagi meneriakkan sesuatu. Kali ini ucapanmu terdengar heroik.
"Semua, cepat bersembunyi! Biar kami yang menjaga kalian semua!"
Dan semua makhluk di hutan ini menuruti perintahmu, bagaikan gelar 'Raja Hutan' telah kau rebut dari sang singa. Padahal untuk apa pula mereka bersembunyi. Tujuan utama makhluk-makhluk yang katanya 'berakal' untuk datang ke hutan dengan membawa gergaji memang bukanlah untuk menyembelih hewan-hewan itu. Bukan untuk burung, bukan juga untuk kancil. Apalagi untuk sang arus sungai. Tujuan utama nya ya untuk makhluk-makhluk sepertimu. Tidak perlu mengucapkan kalimat heroik itu, kamu memang akan menjadi korbannya.
          
 *   *   *

    Sudah 3 jam sejak kedatangan manusia-manusia bersenjata itu. Hewan-hewan masih bersembunyi, entah di mana letak tempat persembunyian itu. Yang aku tahu, tempat persembunyian tersebut pasti cukup besar hingga dapat menyembunyikan makhluk-makhluk sebanyak itu. Dalam 3 jam ini, tubuhku masih suci dari tangan-tangan licik mereka, apalagi senjata mereka. Tubuhmu pun. Masih kokoh, gagah.

    Tetapi itu hanya sesaat saja. Memang pada dasarnya manusia, mana kuat menahan untuk tidak menyentuh sesuatu yang tampak sempurna, sepertimu. Dasar, makhluk-makhluk penuh nafsu! Tidak memuaskan mereka jika hanya tangan mereka saja yang menyentuhmu. Lempengan logam penuh karat yang mereka pegangpun, perlahan-lahan menyentuh tubuh sempurna mu. Sedikit demi sedikit hingga terdengar suara isak tangis yang semakin lama semakin nyaring. Yang para manusia tahu, itu suara hantu. Yang kamu tidak tahu, pahlawan tidak boleh menangis saat menyelamatkan rakyatnya.